Kamis, 12 Desember 2013

We Love Train Travel

Kereta api adalah moda transportasi favorit saya sejak kecil. Perjalanan naik kereta api itu rasanya menyenangkan sekali, meski harus naik kereta kelas ekonomi yang berdesak-desakan kala itu.
Maklum saja, waktu kecil saya suka mabuk perjalanan apalagi kalau naik mobil atau bis, bikin susah mama saja. Ndeso tenan, kalau kata si papah, hahaha..  Tapi kalau naik kereta api saya tidak pernah mabuk dan ketagihan. Seiring bertambahnya usia saya tidak lagi mabuk perjalanan, karena ditambah rasa malu juga sih kalau saya pergi bersama teman-teman sampai mabuk segala :D 
Rupanya kecintaan saya dengan kereta api menular ke Tangguh. Apalagi sejak dia mulai bisa berjalan dan bicara lancar, selalu yang diceritakan soal naik kereta api di stasiun. Apalagi serial favoritnya Thomas and his friends. Hampir semua kereta yang ditemuinya diberi nama teman-temannya Thomas. Kebetulan juga orang tua saya tinggal di Jogja, jadi kereta api adalah moda transportasi mudik favorit.
Sejak umur sebulan Tangguh sudah naik kereta api dari Jogja ke Jakarta. Maklum, waktu itu saya melahirkan di kampung halaman. Sejak itu entah berapa kali kami bolak-balik naik kereta api. Bukan cuma ke Jogja, kadang ke Bandung pun, ke rumah mbah buyutnya (mbah saya), saya lebih memilih naik kereta api ketimbang travel. Memang sih waktu tempuhnya lebih lama ketimbang naik travel. Bahkan, saya juga sering mengajak Tangguh naik KRL Commuterline untuk menghemat waktu tempuh berkeliling Jakarta dan sekitarnya.
Tangguh termasuk anak yang suka traveling dan suka bertemu dengan orang baru, hampir gak pernah rewel apalagi bosan. Tapi, kadang dia tidak bisa duduk diam sepanjang perjalanan. Nah, kalau naik kereta api kan dia bisa leluasa berjalan-jalan di lorong saat sedang bosan atau duduk di bawah sambil mainan. Nah, kalau misalnya naik mobil angkutan/travel atau bus kan sulit tuh, risiko rewelnya pasti lebih gede, bisa membuat mood jalan-jalan saya ikutan rusak. Ya kecuali kalau kita naik bis atau mobil rombongan, lumayan banyak yang ikutan momong jadi saya tenang deh.




Dulu sih sebelum Tangguh bisa jalan saya gak berani deh naik kereta berduaan aja, kebayang rempong abis.. Pasti pengennya dititah kalau jalan-jalan, belum lagi kalau kebelet mau ke WC. Rasanya horor banget bawa anak kecil dalam perjalanan jauh sendirian. Makanya saya pasti harus ditemani suami, adik, mamah atau ibu mertua.  Tapi seiring dengan bertambahnya usia, sekarang saya berani jalan-jalan berdua saja dengan Tangguh ke Bandung dan ke Jogja, naik kereta api tentunya.

Modalnya cuma tas backpack, baby wrap/gendongan depan dan tentunya santai saja. Saya cukup beruntung Tangguh tidak suka neko-neko di jalan, bawaan pun ringkes, paling cuma bawa baju ganti saja 2 pasang, aneka camilan dan mainan jangan sampai lupa. Semenjak buka diapers beberapa bulan lalu, barang bawaan pun terasa lebih enteng karena gak perlu bekal clodi lagi. Urusan makan pun gampanglah, bisa beli di stasiun atau bawa bekal yang simpel.

Untungnya lagi semenjak disapih, Tangguh tidak minum susu dari dot ya sudah jadilah saya cukup membawa susu UHT kotak kecil. Tapi biasanya malah gak keminum karena dia lebih pilih air putih atau jus. Sementara itu buat baju-baju lainnya biasanya saya memilih menggunakan jasa paket saja, lebih ringkas dan langsung sampai rumah.

Next, saya harus bawa Tangguh naik pesawat nih berdua saja. Mumpung saya belum punya anak lagi,  jadi saya mau “honeymoon” dulu dengan Tangguh mengingat ayahnya susah banget disuruh ambil cuti buat liburan :(

Selasa, 03 September 2013

Jangan takut ke dokter!


Sebagian besar orang, termasuk saya dan Anda barangkali, enggan sekali melangkahkan kaki ke rumah sakit atau klinik dokter untuk sekedar mengecek kesehatan. Apalagi saat kondisi dirasa sehat walafiat. Lha, ngapain ke dokter kalau enggak sakit? Mungkin stigma itu sudah terpatri di benak banyak orang, mengingat pergi ke dokter pastilah mengeluarkan kocek yang tidak sedikit.

Tapi apa benar berkunjung ke dokter itu hanya saat kondisi badan tidak fit alias sakit saja? Nyatanya, memeriksakan kesehatan rutin ke dokter sebelum datangnya suatu penyakit menekan biaya dan risiko yang lebih besar di masa yang akan datang.

Misalnya, ketika kita sakit gigi lalu kita pergi ke dokter gigi. Saya jamin dokter akan menyarankan Anda datang kembali dan memberi resep terlebih dahulu karena dokter tidak bisa mengambil tidakan yang bisa membahayakan pasien. Mungkin Anda harus datang lagi hingga 2-3 kali, dan kemudian ditindaklanjuti dengan tindakan yang sungguh menyakitkan. Dan yang lebih menyakitkan adalah, tagihan yang Anda terima, wow.. mahalnya sakit itu.

Coba bandingkan saja, jika kita patuh dengan anjuran untuk memeriksakan gigi setiap 6 bulan-1 tahun sekali meskipun tanpa keluhan, insya ALLAH kita tidak perlu bolak-balik ke dokter sambil terus menahan rasa sakit. Dokter pun akan melakukan tindakan yang sifatnya preventif ketimbang reaktif kan.

Begitu juga pengalaman saya dengan dokter THT. Waktu masih kuliah, saya adalah salah satu “korban” dokter THT di RS Dr Sarjito. Selama sebulan, entah berapa kali saya harus bolak-balik untuk mengambil kotoran telinga yang mengeras. Jangan ditanya bagaimana rasanya, selain sakit saya juga capek bolak-balik, makan biaya  dan waktu. Memang sih waktu itu sebagian biaya pengobatan ditanggung asuransi kampus, eh tapi ya saya juga tetep keluar biaya meski terjangkau tapi kan lumayan juga buat anak kost. Huft.. setelah si kotoran telinga membandel itu keluar, akhirnya saya pun nurut saran dokter untuk tidak membersihkan telinga sendiri dan harus kontrol minimal 6 bulan-1 tahun.

Selain gigi dan THT, masih banyak kok dokter yang perlu kita kunjungi sebagai bentuk pencegahan atau mengurangi risiko kita terhadap penyakit. Misalnya pap smear ke dokter kandungan untuk mendeteksi sejak dini risiko kanker serviks. Jadi, ke dokter kandungan bukan cuma saat hamil doang lho ya. 

Kalau ada rejeki lebih atau syukur-syukur ditanggung asuransi sih, enggak usah ragu untuk memeriksakan kesehatan ke dokter. Tapi.. ada baiknya sebelum ke dokter kita cari rekomendasi dulu dokter-dokter mana yang oke diajak komunikasi. Jangan sampai ke dokter tapi sia-sia belaka karena dia pelit informasi, kan tujuan kita untuk menurunkan risiko gangguan kesehatan. Jadi pasien juga harus cerewet sama dokternya, bertanyalah sebanyak-banyak tentang kesehatan kita dan tindakan preventifnya. Jadi, ga perlu tunggu sakit kan untuk ketemu dokter?


Jumat, 19 Juli 2013

Gak butuh berburu diskon susu & popok

Dulu sebelum punya anak saya termasuk orang yang mengira bahwa punya anak berarti harus kerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhannya. Ya pastilah bertambahnya anggota keluarga baru akan menambah pengeluaran rumah tangga. Tapi yang perlu saya garis bawahi disini adalah pengeluaran untuk susu dan popok sekali pakai alias pospak yang selalu jadi keluhan para orang tua baru. Bukannya apa-apa, kebutuhan "wajib" itu memang cukup menguras kantong sehingga gak heran banyak yang bilang "kerja keras buat beli susu dan popok anak".
 
Jarang banget lho saya dengar -meski sepertinya juga prioritas bagi orang tua- kata-kata "kerja sekolah untuk biaya sekolah anak". Ya mungkin kalau orang tua dengan penghasilan lebih dari cukup dan well ecducated selain si susu dan pospak, tabungan atau asuransi pendidikan pastinya menjadi pos pengeluaran baru demi masa depan si kecil kelak. Tapi, kalau orang tua yang penghasilannya pas-pasan, sepertinya pengeluaran untuk saat ini jauh lebih penting dibanding dengan menyisihkan penghasilan untuk masa depan. Kebutuhan akan si susu dan pospak jauh lebih mendesak ketimbang pendidikan masa depan, toh si anak masih bayi. Kata urang sunda mah "kumaha engke we, rejeki teu kamana".

Sebegitu "wajib" kah susu dan pospak bagi anak-anak terutama untuk anak dibawah 2 tahun? Sering sekali saya bertemu dengan  para ibu yang berburu diskon baik di supermarket, koran atau di toko online, "Biar dapat yang murah, kan lumayan selisihnya". Ya wajar sih, namanya juga ibu-ibu pasti gatal kalau mendengar kata diskon, ditambah lagi harga susu dan pospak itu memang lumayan menguras kantong, soalnya kan dalam 1 bulan tak cuma butuh 1 item saja. Saya sempat shock waktu teman saya bilang anaknya bisa menghabiskan 8 kaleng susu dalam waktu 1 bulan, dan harga sekalengnya lebih dari Rp100 ribu, belum lagi pospaknya. Ya kira-kira Rp1 juta bisa habis untuk keperluan susu dan popok saja. Wowww... Luar biasa.
 


Dulu saya sempat berpikir "Wah, saya bakal jadi salah satu dari ibu-ibu pemburu diskon itu sepertinya. Tapi emang harus ya pengeluaran sebesar itu untuk makhluk kecil yang baru lahir?" Dan jawabannya ternyata tidak. Setelah saya punya anak saya bisa bertepuk dada bahwa saya bukanlah salah satu dari ibu-ibu pemburu diskon popok dan susu. Sebelum melahirkan, saya banyak sekali belajar dari berbagai diskusi dan forum, ternyata bayi itu gaK butuh susu selain Air Susu Ibu (ASI), dan ASI itu gratis, tis..

ASI gratis, banyak, lancar dan berkualitas diperoleh dari ibu yang sehat dan bahagia. Sehat dan bahagia itu bisa dicapai dari gizi ibu yang seimbang. Para ahli kesehatan saja sepakat kok menyatakan bahwa ASI adalah asupan terbaik untuk bayi dan tidak bisa disamakan kualitasnya oleh susu manapun. Satu info lagi nih, pemberian susu formula untuk bayi itu semestinya harus dengan rekomedasi dokter atas pertimbangan medis khusus, gak bisa sembarangan. Sayang regulasi di Indonesia masih berada di
area abu-abu, menggalakkan ASI tapi juga membebaskan produsen susu formula untuk menebar "rayuan maut" yang membuat para ibu galau untuk sekedar memberikan ASI.

So kesimpulannya, daripada ngeluarin uang beratus-ratus ribu tiap bulan untuk beli susu, lebih baik uangnya dikonversikan untuk memperbaiki gizi si ibu. Lagi pula uang sebesar itu tak akan habis untuk makan sseorang ibu aja, si bapak pun bisa ikut makan yang bergizi kan. Selain itu, bayi tuh tidak butuh makan lain atau minuman lain selain ASI sampai 6 bulan masa hidupnya(ASI ekslusif). Baru setelah itu berikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi, bukan yang kemasan juga. Pakai saja bahan-bahan fresh yang ada di tukang sayur atau di pasar, bisa dimakan sekeluarga kan. Jadi gak perlu deh beli makanan khusus bayi. Tuh kan, ternyata hemat.

Setelah saya berhasil menyapih anak saya diusia 26 bulan, godaan susu pertumbuhan yang iklan-iklannya kadang bikin ibu galau, termasuk saya, menghampiri. Untung lagi saya ibu yang "gaul" jadi gak mempan deh dirayu iklan. Anak saya gak perlu tuh susu khusus pertumbuhan selepas ASI. Sekarang sih susu cuma sekedar kuliner saja, dan susunya pun susu cair yang murah meriah dan bisa diminum sekeluarga. Hemat dan praktis.

Nah, kalau popok bagaimana? Kan repot kalau harus pakai popok kain atau celana pop gitu, cucian numpuk, bau pesing dimana-dimana. Ya.. Jujur, saya pun gak bisa lepas 100% dari pospak, tapi sepertinya saya tak perlu memburu diskon juga untuk dapat pospak dengan harga termurah. Biasanya saya beli yang kemasan kecil, hanya untuk berjaga-jaga saja. Biasanya pakai pospak juga cuma ketika pergi agak lama dan jauh, biar praktis, just it! Nah, kalau dirumah bagaimana? Beruntung saya kenal cloth diapers (clodi) sebelum melahirkan, jadilah lumayan referensi saya soal barang "must have item" ini. Fungsinya sama kayak pospak, cuma bisa dicuci dan dipakai berulang kali. Memang sih ada yang bilang, "harga clodi kan mahal jadi ya sama saja". Ah, siapa bilang? Memang harga diawal agak mahal tapi lihat juga dong penghematannya kedepan, dan juga ramah lingkungan karena gak perlu nyampah pospak terus setiap hari.

Bahkan sampai anak saya 2 tahun lebih dan belum lulus toilet trainingnya, si clodi ini masih setia menemani. Meski ada yang bilang perawatannya ribet, buat saya sih dipake gampangnya saja lah, toh sampai sekarang alhamdulillah masih awet kok. Tapi kalau sehar-hari dirumah sih saya lebih memilih celana pop sih, biarin cucian numpuk juga toh ada mesin cuci, hehehe.. Prinsip saya sih kalau ada yang lebih hemat buat apa pilih yang mahal. Toh ujung-ujungnya si pospak juga jadi sampah.

Tuh, gak perlu jadi pemburu diskon untuk susu dan popok kan? mending cari diskon yang lain, minyak goreng, detergen, atau sepatu, baju mungkin, hehehe...


Selasa, 02 Juli 2013

Merindukan Buku Diary


Di zaman serba canggih ini seperti kemampuan menulis tangan sudah mulai menurun. Ya iyalah, lebih cepet dan gampang menulis di keypad smartphone atau keyboard laptop kan ketimbang nulis diatas kertas.

Tapi sebenarnya saya kangen banget lho curhat di atas buku diary dengan awalan "Dear Diary". Khas anak perempuan yang gemar curhat bersama teman mayanya, si diary.

Awal mula jatuh cinta menulis di buku diary ketika duduk di kelas 5 SD, waktu itu saya baru pindah sekolah di luar kota. Beradaptasi di lingkungan baru, pengalaman baru, dan teman-teman baru saya butuh sarana untuk mengeluarkan ekspresi dan perasaan.

Kalau cerita sama orang tua kok kayaknya kurang lepas, enggak bisa detail. Meski sebenarnya papa dan mama saya itu tipe pendengar cerita yang baik. Nah, makanya saya mulai menulis di diary. Tahu soal diary itu sebenarnya dari hadiah ulang tahun yang ke-11 dari teman baru disekolah, bukunya lucu, bunga-bunga warna pink. Itulah buku diary pertama saya.


 

Awal mula sih cerita soal sekolah baru, temen baru, lingkungan baru dengan bahasa khas anak SD. Menjelang remaja tanggung alias ABG mulai deh terserang virus cinta monyet, ya sudahlah buku diary isinya tentang fall in love, patah jati, bahkan gencet-menggencet dengan kakak dan adik kelas pun ada disitu, maklumlah masih remaja ababil.

Kebiasaan menulis diary bertahan sampai saya lulus kuliah. Kalau dikumpulkan sepertinya sudah ada 8 buku diary saya tulis. Memang tidak setiap hari saya curhat, mungkin bisa seminggu sekali atau kalau hidup sedang datar-datar saja ya apa yang mau diceritakan. Tapi dahsyatnya menulis diary adalah saat perasaan sedang patah hati atau galau, lancar jaya rasanya mencurahkan setiap detail kejadian, hahaha..

Sayangnya kebiasaan saya menulis diary terhenti sejak saya lulus kuliah dan mulai sibuk bekerja. Apalagi saya harus kerja di luar kota dan sedikit punya waktu sendiri. Ehhmm.. Sebenarnya sih sejak saya berteman akrab sama smartphone dan laptop. Sesekali curhat masih dilanjutkan di laptop, tapi sensasinya tak sedahsyat buku diary. Dan setelah saya menemukan pasangan hidup, nyaris hilang kebiasaan curhat saya lewat tulisan. Meskipun zaman sekarang orang lebih terbuka ngeluarin isi otaknya di sosial media, maupun blog dan bisa jadi konsumsi publik, tapi menurut saya merahasiakan sesuatu melalui tulisan itu sebenarnya mengasikan juga lho. Toh, enggak setiap orang harus tahu apa yang terjadi sama kita kan?

Waktu pulang ke rumah beberapa bulan lalu, saya mendapati suasana kamar saya sudah berubah. Mama memang apik menyimpan barang-barang justru menyimpan buku-buku diary saya yang dulu saya sembunyikan di lemari. Hahaha.. Tapi saya engga pernah nanya sih, apa mama baca cerita-cerita konyol saya di situ. Kalau saya punya anak perempuan kelak, sepertinya saya akan menularkan si buku diary padanya.

http://muda.kompasiana.com/2013/07/02/merindukan-buku-diary-573668.html

Sabtu, 15 Juni 2013

Sorry, nggak mau nanggung risiko lebih lanjut deh!



Sejak memutuskan resign dari pekerjaan yang saya cintai itu, saya jadi punya banyak waktu untuk merenung dirumah. Apakah keputusan saya ini sudah tepat? Gak heranlah mengingat kehidupan saya berbalik 180 derajat dari si tukang “ngider” alias ga bisa diam menjadi orang rumahan aja. 

Kalau ditanya apa alasan saya resign saat itu ya jawaban saya adalah rasa kecewa dengan tempat saya bekerja. Namun,  di lubuk hati saya terdalam kala itu adalah perperangan Mahabarata di dalam diri saya antara menjadi ibu yang egois dengan terus bekerja mengejar impian saya dengan anak saya yang melambai-lambai ingin disayangi ibunya sepanjang waktu.

Saya berhasil survive dan berdamai dengan diri saya hingga Tangguh berusia 14 bulan. Percayalah, ketika saya meninggalkan Tangguh untuk kembali bekerja pada saat dia berusia 2 bulan sampai setahun itu mudah rasanya, ya biasa aja. Karena dia belum ngerti terlalu banyak. Cukup mudah juga untuk memberi instruksi buat pengasuhnya tentang apa saya yang harus dilakukan, mempersiapkan ASIP dan makanan yang saya buat sendiri sebelum berangkat kerja. Gampanglah pokoknya...  So, saat itu saya jumawa lah ya jadi successfull working mom #versi saya sendiri tentunya..

But then, setelah Tangguh setahun lebih, mulai bisa mengerti dan sedih ketika bundanya berangkat kerja, selain itu terlihat ada yang “kurang beres” dengan perkembangan motoriknya saya mulai bertanya-tanya, what really happened with my son?

Meski masih numpang di rumah mertua, sepenuhnya pengasuhan Tangguh selama saya kerja ada ditangan pengasuhnya, ibu Sunarti atau yang lebih sering dipanggil mama Putri. Dia tinggal deket sini, jadi pulang pergi. Orangnya memang biasa megang anak kecil dan alhamdulillah dia sayang ma Tangguh, cukup ngerti juga dengan instruksi saya soal memberikan ASIP dan makanan, meski pernah juga sih bikin Bete saat Tangguh ternyata masih dikasih makanan blender pas 11 bulanan padahal udah bisa makan nasi, plus klo makan dibawa gendong-gendong segala, bikin kesel takut kebiasaan.

Huft.. tapi saya tahan karena saya butuh dia untuk jagain Tangguh selama saya kerja. Ya.. tau sendiri deh sekarang kan susah banget cari pengasuh atau ART apalagi ini sudah sayang dan pinter lagi, jadi ya saya rela deh “service” dia.

But then, setelah setahun lebih Tangguh belum menunjukkan tanda-tanda untuk belajar jalan, dimana anak seusianya justru dah jalan saya mulai was-was. Usut punya usut ternyata si pengasuh terlalu sering menggendong daripada ngasih kesempatan dia untuk belajar berdiri dan jalan. Ya.. selain itu memang ada beberapa kesalahan lain yang diantaranya hasil konspirasi mamah saya dan si ayah untuk membelikan baby walker waktu Tangguh baru sktr 8 bulanan, alasannya sih biar cepet jalan. Eh tapi ternyata itulah biang keroknya karena Tangguh itu kasus khusus yang mestiinya ga boleh “ditolong” baby walker untuk belajar jalan. Huuuhhh... asli kesel saya.. Klo dikasih tau baik-baik pasti saya yang dibiilang sok tau, ya sudahlah apa daya.. lagi-lagi atas nama “risiko nitip” ya sudah saya pasrah..

Setelah sharing kanan-kiri, atas bawah dengan sesama working mom yang bernasib serupa dengan saya yaitu dimana cuma bisa pasrah ketika soal pengasuhan anak ada yang berbeda dengan apa yang diinginkan ibunya karena memang “risiko” itu. Saya jadi makin berpikir keras, apa ini tugas seorang ibu sesungguhnya? Permisif terhadap pengasuhan anak karena kita “nitip” si harta paling berharga ini? Terus, nanti hasilnya anak kita anak siapa?

Hadeuuuhh... perang Mahabarata makin berkecamuk dihati saya. Teringat saat itu Tangguh lebih sering memanggil “ibu” ketimbang “bunda” yang artinya dia lebih sering nyari pengasuhnya itu, dan dia lengket sekali dengan keluarga mereka. Puncak rasa bersalah saya adalah ketika Tangguh masuk RS karena terkena diare akibat  tertular si pengasuh dan anaknya yang juga sakit sebelumnya. Hadeeuuhhh... hati saya hancur, kebagian getahnya doank. Mau seketat apapun kita ngejaga tapi namanya bukan dipegang sendiri ya inilah salah satu risikonya yang harus ditanggung. Bukan bermaksud menjelekkan tempat tinggal orang lain, tapi saya memang ga sreg sejak awal kalau Tangguh stay dirumah pengasuhnya selama saya kerja.

Ya sudah berulang kali dibilang di rumah ini saja, tapi namanya rumahnya deket ya pastinya dia lebih milih pulang dong ya.  Nah, saya kan ga bisa kontrol apa disana bersih atau dikasih makan apa saja disana. Hahh... lagi-lagi itulah risikonya “nitip”, Lalu, sapa yang kena getahnya? Ya pasti saya... saya berandai-andai kalau semisal Tangguh saya urus sendiri, insya allah tidak akan seperti itu, mau nyalahin orang tapi kok ya ga bijak, bagaimanapun dia sudah banyak berjasa juga.

Hah.. Tidak..  saya benci diposisi seperti itu, bikin ga tenang. Udah mana pekerjaan saya ditempat itu tak bisa diperjuangkan, so buat apa saya berkorban kalau korbannya itu adalah anak saya? Sudahlah mending saya keluar saja dari pekerjaan itu. Meski risikonya besar karena saya harus menanggung konsekuensi kehilangan power karena sekarang 100 persen nodong suami, tapi alhamdulillah malah jauh lebih cukup ketimbang dulu waktu saya kerja.

Wajar saja, uang gaji saya kala itu habis blas untuk membayar 2 orang asisten rumah tangga, termasuk pengasuhnya Tangguh. Belum lagi karena saking sibuknya saya kerja, saya jadi jarang masak dan ujung-ujungnya makan diluar yang pastinya lebih mahal daripada masak sendiri. So, I took that risk!

Then Now, saya tidak punya ART dan saya menangani Tangguh tanpa bantuan pengasuh.Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, meski tinggal dengan mertua tapi mertua saya itu super sibuk dua-duanya. Alhasil saya lah pastinya yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan rumah tangga. No problem sebenarnya karena saya udah biasa ngerjain hal itu sebelumnya karena mamah+ibu (nenek saya yang super galak itu) adalah orang-orang yang mengajarkan saya arti kebersihan rumah. 

Buat saya rumah bersih dan rapi dan dikerjakan sendiri itu lebih menyenangkan ketimbang harus bayar orang tapi hasilnya tidak maksimal. Dan terutama saat  ini Tangguh berada dalam kontrol saya 100 persen, alhamdulillah makin banyak kebisaannya dan makin lengket sama bundanya. Ya.. daripada lengket sama orang lain kan, meski saat ini saya nyaris tidak punya waktu untuk diri sendiri atau pergi kemana-mana seenak hati, tapi inilah yang saya syukuri, more than anything!