Di
zaman serba canggih ini seperti kemampuan menulis tangan sudah mulai menurun.
Ya iyalah, lebih cepet dan gampang menulis di keypad smartphone atau keyboard
laptop kan ketimbang nulis diatas kertas.
Tapi sebenarnya saya kangen banget lho curhat di atas buku diary dengan awalan "Dear Diary". Khas anak perempuan yang gemar curhat bersama teman mayanya, si diary.
Awal mula jatuh cinta menulis di buku diary ketika duduk di kelas 5 SD, waktu itu saya baru pindah sekolah di luar kota. Beradaptasi di lingkungan baru, pengalaman baru, dan teman-teman baru saya butuh sarana untuk mengeluarkan ekspresi dan perasaan.
Kalau cerita sama orang tua kok kayaknya kurang lepas, enggak bisa detail. Meski sebenarnya papa dan mama saya itu tipe pendengar cerita yang baik. Nah, makanya saya mulai menulis di diary. Tahu soal diary itu sebenarnya dari hadiah ulang tahun yang ke-11 dari teman baru disekolah, bukunya lucu, bunga-bunga warna pink. Itulah buku diary pertama saya.
Tapi sebenarnya saya kangen banget lho curhat di atas buku diary dengan awalan "Dear Diary". Khas anak perempuan yang gemar curhat bersama teman mayanya, si diary.
Awal mula jatuh cinta menulis di buku diary ketika duduk di kelas 5 SD, waktu itu saya baru pindah sekolah di luar kota. Beradaptasi di lingkungan baru, pengalaman baru, dan teman-teman baru saya butuh sarana untuk mengeluarkan ekspresi dan perasaan.
Kalau cerita sama orang tua kok kayaknya kurang lepas, enggak bisa detail. Meski sebenarnya papa dan mama saya itu tipe pendengar cerita yang baik. Nah, makanya saya mulai menulis di diary. Tahu soal diary itu sebenarnya dari hadiah ulang tahun yang ke-11 dari teman baru disekolah, bukunya lucu, bunga-bunga warna pink. Itulah buku diary pertama saya.
Awal mula sih cerita soal sekolah baru, temen baru, lingkungan baru dengan bahasa khas anak SD. Menjelang remaja tanggung alias ABG mulai deh terserang virus cinta monyet, ya sudahlah buku diary isinya tentang fall in love, patah jati, bahkan gencet-menggencet dengan kakak dan adik kelas pun ada disitu, maklumlah masih remaja ababil.
Kebiasaan menulis diary bertahan sampai saya lulus kuliah. Kalau dikumpulkan sepertinya sudah ada 8 buku diary saya tulis. Memang tidak setiap hari saya curhat, mungkin bisa seminggu sekali atau kalau hidup sedang datar-datar saja ya apa yang mau diceritakan. Tapi dahsyatnya menulis diary adalah saat perasaan sedang patah hati atau galau, lancar jaya rasanya mencurahkan setiap detail kejadian, hahaha..
Sayangnya kebiasaan saya menulis diary terhenti sejak saya lulus kuliah dan mulai sibuk bekerja. Apalagi saya harus kerja di luar kota dan sedikit punya waktu sendiri. Ehhmm.. Sebenarnya sih sejak saya berteman akrab sama smartphone dan laptop. Sesekali curhat masih dilanjutkan di laptop, tapi sensasinya tak sedahsyat buku diary. Dan setelah saya menemukan pasangan hidup, nyaris hilang kebiasaan curhat saya lewat tulisan. Meskipun zaman sekarang orang lebih terbuka ngeluarin isi otaknya di sosial media, maupun blog dan bisa jadi konsumsi publik, tapi menurut saya merahasiakan sesuatu melalui tulisan itu sebenarnya mengasikan juga lho. Toh, enggak setiap orang harus tahu apa yang terjadi sama kita kan?
Waktu pulang ke rumah beberapa bulan lalu, saya mendapati suasana kamar saya sudah berubah. Mama memang apik menyimpan barang-barang justru menyimpan buku-buku diary saya yang dulu saya sembunyikan di lemari. Hahaha.. Tapi saya engga pernah nanya sih, apa mama baca cerita-cerita konyol saya di situ. Kalau saya punya anak perempuan kelak, sepertinya saya akan menularkan si buku diary padanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar