Sejak memutuskan resign dari pekerjaan yang saya
cintai itu, saya jadi punya banyak waktu untuk merenung dirumah. Apakah keputusan
saya ini sudah tepat? Gak heranlah mengingat kehidupan saya berbalik 180
derajat dari si tukang “ngider” alias ga bisa diam menjadi orang rumahan aja.
Kalau ditanya apa alasan saya resign saat itu ya
jawaban saya adalah rasa kecewa dengan tempat saya bekerja. Namun, di lubuk hati saya terdalam kala itu adalah
perperangan Mahabarata di dalam diri saya antara menjadi ibu yang egois dengan
terus bekerja mengejar impian saya dengan anak saya yang melambai-lambai ingin
disayangi ibunya sepanjang waktu.
Saya berhasil survive dan berdamai dengan diri saya
hingga Tangguh berusia 14 bulan. Percayalah, ketika saya meninggalkan Tangguh
untuk kembali bekerja pada saat dia berusia 2 bulan sampai setahun itu mudah
rasanya, ya biasa aja. Karena dia belum ngerti terlalu banyak. Cukup mudah juga
untuk memberi instruksi buat pengasuhnya tentang apa saya yang harus dilakukan,
mempersiapkan ASIP dan makanan yang saya buat sendiri sebelum berangkat kerja.
Gampanglah pokoknya... So, saat itu saya
jumawa lah ya jadi successfull working mom #versi saya sendiri tentunya..
But then, setelah Tangguh setahun lebih, mulai bisa
mengerti dan sedih ketika bundanya berangkat kerja, selain itu terlihat ada
yang “kurang beres” dengan perkembangan motoriknya saya mulai bertanya-tanya,
what really happened with my son?
Meski masih numpang di rumah mertua, sepenuhnya
pengasuhan Tangguh selama saya kerja ada ditangan pengasuhnya, ibu Sunarti atau
yang lebih sering dipanggil mama Putri. Dia tinggal deket sini, jadi pulang
pergi. Orangnya memang biasa megang anak kecil dan alhamdulillah dia sayang ma
Tangguh, cukup ngerti juga dengan instruksi saya soal memberikan ASIP dan
makanan, meski pernah juga sih bikin Bete saat Tangguh ternyata masih dikasih
makanan blender pas 11 bulanan padahal udah bisa makan nasi, plus klo makan
dibawa gendong-gendong segala, bikin kesel takut kebiasaan.
Huft.. tapi saya tahan karena saya butuh dia untuk
jagain Tangguh selama saya kerja. Ya.. tau sendiri deh sekarang kan susah
banget cari pengasuh atau ART apalagi ini sudah sayang dan pinter lagi, jadi ya
saya rela deh “service” dia.
But then, setelah setahun lebih Tangguh belum
menunjukkan tanda-tanda untuk belajar jalan, dimana anak seusianya justru dah
jalan saya mulai was-was. Usut punya usut ternyata si pengasuh terlalu sering
menggendong daripada ngasih kesempatan dia untuk belajar berdiri dan jalan.
Ya.. selain itu memang ada beberapa kesalahan lain yang diantaranya hasil
konspirasi mamah saya dan si ayah untuk membelikan baby walker waktu Tangguh
baru sktr 8 bulanan, alasannya sih biar cepet jalan. Eh tapi ternyata itulah
biang keroknya karena Tangguh itu kasus khusus yang mestiinya ga boleh
“ditolong” baby walker untuk belajar jalan. Huuuhhh... asli kesel saya.. Klo
dikasih tau baik-baik pasti saya yang dibiilang sok tau, ya sudahlah apa daya..
lagi-lagi atas nama “risiko nitip” ya sudah saya pasrah..
Setelah sharing kanan-kiri, atas bawah dengan sesama
working mom yang bernasib serupa dengan saya yaitu dimana cuma bisa pasrah
ketika soal pengasuhan anak ada yang berbeda dengan apa yang diinginkan ibunya
karena memang “risiko” itu. Saya jadi makin berpikir keras, apa ini tugas
seorang ibu sesungguhnya? Permisif terhadap pengasuhan anak karena kita “nitip”
si harta paling berharga ini? Terus, nanti hasilnya anak kita anak siapa?
Hadeuuuhh... perang Mahabarata makin berkecamuk
dihati saya. Teringat saat itu Tangguh lebih sering memanggil “ibu” ketimbang
“bunda” yang artinya dia lebih sering nyari pengasuhnya itu, dan dia lengket
sekali dengan keluarga mereka. Puncak rasa bersalah saya adalah ketika Tangguh
masuk RS karena terkena diare akibat
tertular si pengasuh dan anaknya yang juga sakit sebelumnya.
Hadeeuuhhh... hati saya hancur, kebagian getahnya doank. Mau seketat apapun
kita ngejaga tapi namanya bukan dipegang sendiri ya inilah salah satu risikonya
yang harus ditanggung. Bukan bermaksud menjelekkan tempat tinggal orang lain,
tapi saya memang ga sreg sejak awal kalau Tangguh stay dirumah pengasuhnya
selama saya kerja.
Ya sudah berulang kali dibilang di rumah ini saja,
tapi namanya rumahnya deket ya pastinya dia lebih milih pulang dong ya. Nah, saya kan ga bisa kontrol apa disana
bersih atau dikasih makan apa saja disana. Hahh... lagi-lagi itulah risikonya
“nitip”, Lalu, sapa yang kena getahnya? Ya pasti saya... saya berandai-andai
kalau semisal Tangguh saya urus sendiri, insya allah tidak akan seperti itu,
mau nyalahin orang tapi kok ya ga bijak, bagaimanapun dia sudah banyak berjasa
juga.
Hah.. Tidak..
saya benci diposisi seperti itu, bikin ga tenang. Udah mana pekerjaan
saya ditempat itu tak bisa diperjuangkan, so buat apa saya berkorban kalau
korbannya itu adalah anak saya? Sudahlah mending saya keluar saja dari
pekerjaan itu. Meski risikonya besar karena saya harus menanggung konsekuensi
kehilangan power karena sekarang 100 persen nodong suami, tapi alhamdulillah
malah jauh lebih cukup ketimbang dulu waktu saya kerja.
Wajar saja, uang gaji saya kala itu habis blas untuk
membayar 2 orang asisten rumah tangga, termasuk pengasuhnya Tangguh. Belum lagi
karena saking sibuknya saya kerja, saya jadi jarang masak dan ujung-ujungnya
makan diluar yang pastinya lebih mahal daripada masak sendiri. So, I took that
risk!
Then Now, saya tidak punya ART dan saya menangani
Tangguh tanpa bantuan pengasuh.Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya,
meski tinggal dengan mertua tapi mertua saya itu super sibuk dua-duanya.
Alhasil saya lah pastinya yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan rumah
tangga. No problem sebenarnya karena saya udah biasa ngerjain hal itu
sebelumnya karena mamah+ibu (nenek saya yang super galak itu) adalah orang-orang
yang mengajarkan saya arti kebersihan rumah.
Buat saya rumah bersih dan rapi
dan dikerjakan sendiri itu lebih menyenangkan ketimbang harus bayar orang tapi
hasilnya tidak maksimal. Dan terutama saat
ini Tangguh berada dalam kontrol saya 100 persen, alhamdulillah makin
banyak kebisaannya dan makin lengket sama bundanya. Ya.. daripada lengket sama
orang lain kan, meski saat ini saya nyaris tidak punya waktu untuk diri sendiri
atau pergi kemana-mana seenak hati, tapi inilah yang saya syukuri, more than
anything!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar