Dulu sebelum punya anak saya termasuk orang yang
mengira bahwa punya anak berarti harus kerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhannya.
Ya pastilah bertambahnya anggota keluarga baru akan menambah pengeluaran rumah
tangga. Tapi yang perlu saya garis bawahi disini adalah pengeluaran untuk susu
dan popok sekali pakai alias pospak yang selalu jadi keluhan para orang tua baru.
Bukannya apa-apa, kebutuhan "wajib" itu memang cukup menguras kantong
sehingga gak heran banyak yang bilang "kerja keras buat beli susu dan
popok anak".
Jarang banget lho saya dengar -meski sepertinya juga
prioritas bagi orang tua- kata-kata "kerja sekolah untuk biaya sekolah anak".
Ya mungkin kalau orang tua dengan penghasilan lebih dari cukup dan well
ecducated selain si susu dan pospak, tabungan atau asuransi pendidikan pastinya
menjadi pos pengeluaran baru demi masa depan si kecil kelak. Tapi, kalau orang
tua yang penghasilannya pas-pasan, sepertinya pengeluaran untuk saat ini jauh
lebih penting dibanding dengan menyisihkan penghasilan untuk masa depan.
Kebutuhan akan si susu dan pospak jauh lebih mendesak ketimbang pendidikan masa
depan, toh si anak masih bayi. Kata urang sunda mah "kumaha engke we,
rejeki teu kamana".
Sebegitu "wajib" kah susu dan pospak bagi
anak-anak terutama untuk anak dibawah 2 tahun? Sering sekali saya bertemu
dengan para ibu yang berburu diskon baik
di supermarket, koran atau di toko online, "Biar dapat yang murah, kan
lumayan selisihnya". Ya wajar sih, namanya juga ibu-ibu pasti gatal kalau
mendengar kata diskon, ditambah lagi harga susu dan pospak itu memang lumayan
menguras kantong, soalnya kan dalam 1 bulan tak cuma butuh 1 item saja. Saya sempat
shock waktu teman saya bilang anaknya bisa menghabiskan 8 kaleng susu dalam
waktu 1 bulan, dan harga sekalengnya lebih dari Rp100 ribu, belum lagi pospaknya.
Ya kira-kira Rp1 juta bisa habis untuk keperluan susu dan popok saja. Wowww...
Luar biasa.
Dulu saya sempat berpikir "Wah, saya bakal jadi
salah satu dari ibu-ibu pemburu diskon itu sepertinya. Tapi emang harus ya pengeluaran
sebesar itu untuk makhluk kecil yang baru lahir?" Dan jawabannya ternyata
tidak. Setelah saya punya anak saya bisa bertepuk dada bahwa saya bukanlah
salah satu dari ibu-ibu pemburu diskon popok dan susu. Sebelum melahirkan, saya
banyak sekali belajar dari berbagai diskusi dan forum, ternyata bayi itu gaK
butuh susu selain Air Susu Ibu (ASI), dan ASI itu gratis, tis..
ASI gratis, banyak, lancar dan berkualitas diperoleh
dari ibu yang sehat dan bahagia. Sehat dan bahagia itu bisa dicapai dari gizi
ibu yang seimbang. Para ahli kesehatan saja sepakat kok menyatakan bahwa ASI adalah
asupan terbaik untuk bayi dan tidak bisa disamakan kualitasnya oleh susu
manapun. Satu info lagi nih, pemberian susu formula untuk bayi itu semestinya harus
dengan rekomedasi dokter atas pertimbangan medis khusus, gak bisa sembarangan.
Sayang regulasi di Indonesia masih berada di
area abu-abu, menggalakkan ASI tapi juga membebaskan
produsen susu formula untuk menebar "rayuan maut" yang membuat para
ibu galau untuk sekedar memberikan ASI.
So kesimpulannya, daripada ngeluarin uang
beratus-ratus ribu tiap bulan untuk beli susu, lebih baik uangnya dikonversikan
untuk memperbaiki gizi si ibu. Lagi pula uang sebesar itu tak akan habis untuk
makan sseorang ibu aja, si bapak pun bisa ikut makan yang bergizi kan. Selain
itu, bayi tuh tidak butuh makan lain atau minuman lain selain ASI sampai 6
bulan masa hidupnya(ASI ekslusif). Baru setelah itu berikan makanan pendamping
ASI (MPASI) yang bergizi, bukan yang kemasan juga. Pakai saja bahan-bahan fresh
yang ada di tukang sayur atau di pasar, bisa dimakan sekeluarga kan. Jadi gak
perlu deh beli makanan khusus bayi. Tuh kan, ternyata hemat.
Setelah saya berhasil menyapih anak saya diusia 26
bulan, godaan susu pertumbuhan yang iklan-iklannya kadang bikin ibu galau, termasuk
saya, menghampiri. Untung lagi saya ibu yang "gaul" jadi gak mempan
deh dirayu iklan. Anak saya gak perlu tuh susu khusus pertumbuhan selepas ASI.
Sekarang sih susu cuma sekedar kuliner saja, dan susunya pun susu cair yang
murah meriah dan bisa diminum sekeluarga. Hemat dan praktis.
Nah, kalau popok bagaimana? Kan repot kalau harus
pakai popok kain atau celana pop gitu, cucian numpuk, bau pesing dimana-dimana.
Ya.. Jujur, saya pun gak bisa lepas 100% dari pospak, tapi sepertinya saya tak
perlu memburu diskon juga untuk dapat pospak dengan harga termurah. Biasanya
saya beli yang kemasan kecil, hanya untuk berjaga-jaga saja. Biasanya pakai
pospak juga cuma ketika pergi agak lama dan jauh, biar praktis, just it! Nah,
kalau dirumah bagaimana? Beruntung saya kenal cloth diapers (clodi) sebelum
melahirkan, jadilah lumayan referensi saya soal barang "must have item"
ini. Fungsinya sama kayak pospak, cuma bisa dicuci dan dipakai berulang kali.
Memang sih ada yang bilang, "harga clodi kan mahal jadi ya sama
saja". Ah, siapa bilang? Memang harga diawal agak mahal tapi lihat juga
dong penghematannya kedepan, dan juga ramah lingkungan karena gak perlu nyampah
pospak terus setiap hari.
Bahkan sampai anak saya 2 tahun lebih dan belum
lulus toilet trainingnya, si clodi ini masih setia menemani. Meski ada yang
bilang perawatannya ribet, buat saya sih dipake gampangnya saja lah, toh sampai
sekarang alhamdulillah masih awet kok. Tapi kalau sehar-hari dirumah sih saya
lebih memilih celana pop sih, biarin cucian numpuk juga toh ada mesin cuci,
hehehe.. Prinsip saya sih kalau ada yang lebih hemat buat apa pilih yang mahal.
Toh ujung-ujungnya si pospak juga jadi sampah.
Tuh, gak perlu jadi pemburu diskon untuk susu dan
popok kan? mending cari diskon yang lain, minyak goreng, detergen, atau sepatu,
baju mungkin, hehehe...

