Jumat, 19 Juli 2013

Gak butuh berburu diskon susu & popok

Dulu sebelum punya anak saya termasuk orang yang mengira bahwa punya anak berarti harus kerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhannya. Ya pastilah bertambahnya anggota keluarga baru akan menambah pengeluaran rumah tangga. Tapi yang perlu saya garis bawahi disini adalah pengeluaran untuk susu dan popok sekali pakai alias pospak yang selalu jadi keluhan para orang tua baru. Bukannya apa-apa, kebutuhan "wajib" itu memang cukup menguras kantong sehingga gak heran banyak yang bilang "kerja keras buat beli susu dan popok anak".
 
Jarang banget lho saya dengar -meski sepertinya juga prioritas bagi orang tua- kata-kata "kerja sekolah untuk biaya sekolah anak". Ya mungkin kalau orang tua dengan penghasilan lebih dari cukup dan well ecducated selain si susu dan pospak, tabungan atau asuransi pendidikan pastinya menjadi pos pengeluaran baru demi masa depan si kecil kelak. Tapi, kalau orang tua yang penghasilannya pas-pasan, sepertinya pengeluaran untuk saat ini jauh lebih penting dibanding dengan menyisihkan penghasilan untuk masa depan. Kebutuhan akan si susu dan pospak jauh lebih mendesak ketimbang pendidikan masa depan, toh si anak masih bayi. Kata urang sunda mah "kumaha engke we, rejeki teu kamana".

Sebegitu "wajib" kah susu dan pospak bagi anak-anak terutama untuk anak dibawah 2 tahun? Sering sekali saya bertemu dengan  para ibu yang berburu diskon baik di supermarket, koran atau di toko online, "Biar dapat yang murah, kan lumayan selisihnya". Ya wajar sih, namanya juga ibu-ibu pasti gatal kalau mendengar kata diskon, ditambah lagi harga susu dan pospak itu memang lumayan menguras kantong, soalnya kan dalam 1 bulan tak cuma butuh 1 item saja. Saya sempat shock waktu teman saya bilang anaknya bisa menghabiskan 8 kaleng susu dalam waktu 1 bulan, dan harga sekalengnya lebih dari Rp100 ribu, belum lagi pospaknya. Ya kira-kira Rp1 juta bisa habis untuk keperluan susu dan popok saja. Wowww... Luar biasa.
 


Dulu saya sempat berpikir "Wah, saya bakal jadi salah satu dari ibu-ibu pemburu diskon itu sepertinya. Tapi emang harus ya pengeluaran sebesar itu untuk makhluk kecil yang baru lahir?" Dan jawabannya ternyata tidak. Setelah saya punya anak saya bisa bertepuk dada bahwa saya bukanlah salah satu dari ibu-ibu pemburu diskon popok dan susu. Sebelum melahirkan, saya banyak sekali belajar dari berbagai diskusi dan forum, ternyata bayi itu gaK butuh susu selain Air Susu Ibu (ASI), dan ASI itu gratis, tis..

ASI gratis, banyak, lancar dan berkualitas diperoleh dari ibu yang sehat dan bahagia. Sehat dan bahagia itu bisa dicapai dari gizi ibu yang seimbang. Para ahli kesehatan saja sepakat kok menyatakan bahwa ASI adalah asupan terbaik untuk bayi dan tidak bisa disamakan kualitasnya oleh susu manapun. Satu info lagi nih, pemberian susu formula untuk bayi itu semestinya harus dengan rekomedasi dokter atas pertimbangan medis khusus, gak bisa sembarangan. Sayang regulasi di Indonesia masih berada di
area abu-abu, menggalakkan ASI tapi juga membebaskan produsen susu formula untuk menebar "rayuan maut" yang membuat para ibu galau untuk sekedar memberikan ASI.

So kesimpulannya, daripada ngeluarin uang beratus-ratus ribu tiap bulan untuk beli susu, lebih baik uangnya dikonversikan untuk memperbaiki gizi si ibu. Lagi pula uang sebesar itu tak akan habis untuk makan sseorang ibu aja, si bapak pun bisa ikut makan yang bergizi kan. Selain itu, bayi tuh tidak butuh makan lain atau minuman lain selain ASI sampai 6 bulan masa hidupnya(ASI ekslusif). Baru setelah itu berikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi, bukan yang kemasan juga. Pakai saja bahan-bahan fresh yang ada di tukang sayur atau di pasar, bisa dimakan sekeluarga kan. Jadi gak perlu deh beli makanan khusus bayi. Tuh kan, ternyata hemat.

Setelah saya berhasil menyapih anak saya diusia 26 bulan, godaan susu pertumbuhan yang iklan-iklannya kadang bikin ibu galau, termasuk saya, menghampiri. Untung lagi saya ibu yang "gaul" jadi gak mempan deh dirayu iklan. Anak saya gak perlu tuh susu khusus pertumbuhan selepas ASI. Sekarang sih susu cuma sekedar kuliner saja, dan susunya pun susu cair yang murah meriah dan bisa diminum sekeluarga. Hemat dan praktis.

Nah, kalau popok bagaimana? Kan repot kalau harus pakai popok kain atau celana pop gitu, cucian numpuk, bau pesing dimana-dimana. Ya.. Jujur, saya pun gak bisa lepas 100% dari pospak, tapi sepertinya saya tak perlu memburu diskon juga untuk dapat pospak dengan harga termurah. Biasanya saya beli yang kemasan kecil, hanya untuk berjaga-jaga saja. Biasanya pakai pospak juga cuma ketika pergi agak lama dan jauh, biar praktis, just it! Nah, kalau dirumah bagaimana? Beruntung saya kenal cloth diapers (clodi) sebelum melahirkan, jadilah lumayan referensi saya soal barang "must have item" ini. Fungsinya sama kayak pospak, cuma bisa dicuci dan dipakai berulang kali. Memang sih ada yang bilang, "harga clodi kan mahal jadi ya sama saja". Ah, siapa bilang? Memang harga diawal agak mahal tapi lihat juga dong penghematannya kedepan, dan juga ramah lingkungan karena gak perlu nyampah pospak terus setiap hari.

Bahkan sampai anak saya 2 tahun lebih dan belum lulus toilet trainingnya, si clodi ini masih setia menemani. Meski ada yang bilang perawatannya ribet, buat saya sih dipake gampangnya saja lah, toh sampai sekarang alhamdulillah masih awet kok. Tapi kalau sehar-hari dirumah sih saya lebih memilih celana pop sih, biarin cucian numpuk juga toh ada mesin cuci, hehehe.. Prinsip saya sih kalau ada yang lebih hemat buat apa pilih yang mahal. Toh ujung-ujungnya si pospak juga jadi sampah.

Tuh, gak perlu jadi pemburu diskon untuk susu dan popok kan? mending cari diskon yang lain, minyak goreng, detergen, atau sepatu, baju mungkin, hehehe...


Selasa, 02 Juli 2013

Merindukan Buku Diary


Di zaman serba canggih ini seperti kemampuan menulis tangan sudah mulai menurun. Ya iyalah, lebih cepet dan gampang menulis di keypad smartphone atau keyboard laptop kan ketimbang nulis diatas kertas.

Tapi sebenarnya saya kangen banget lho curhat di atas buku diary dengan awalan "Dear Diary". Khas anak perempuan yang gemar curhat bersama teman mayanya, si diary.

Awal mula jatuh cinta menulis di buku diary ketika duduk di kelas 5 SD, waktu itu saya baru pindah sekolah di luar kota. Beradaptasi di lingkungan baru, pengalaman baru, dan teman-teman baru saya butuh sarana untuk mengeluarkan ekspresi dan perasaan.

Kalau cerita sama orang tua kok kayaknya kurang lepas, enggak bisa detail. Meski sebenarnya papa dan mama saya itu tipe pendengar cerita yang baik. Nah, makanya saya mulai menulis di diary. Tahu soal diary itu sebenarnya dari hadiah ulang tahun yang ke-11 dari teman baru disekolah, bukunya lucu, bunga-bunga warna pink. Itulah buku diary pertama saya.


 

Awal mula sih cerita soal sekolah baru, temen baru, lingkungan baru dengan bahasa khas anak SD. Menjelang remaja tanggung alias ABG mulai deh terserang virus cinta monyet, ya sudahlah buku diary isinya tentang fall in love, patah jati, bahkan gencet-menggencet dengan kakak dan adik kelas pun ada disitu, maklumlah masih remaja ababil.

Kebiasaan menulis diary bertahan sampai saya lulus kuliah. Kalau dikumpulkan sepertinya sudah ada 8 buku diary saya tulis. Memang tidak setiap hari saya curhat, mungkin bisa seminggu sekali atau kalau hidup sedang datar-datar saja ya apa yang mau diceritakan. Tapi dahsyatnya menulis diary adalah saat perasaan sedang patah hati atau galau, lancar jaya rasanya mencurahkan setiap detail kejadian, hahaha..

Sayangnya kebiasaan saya menulis diary terhenti sejak saya lulus kuliah dan mulai sibuk bekerja. Apalagi saya harus kerja di luar kota dan sedikit punya waktu sendiri. Ehhmm.. Sebenarnya sih sejak saya berteman akrab sama smartphone dan laptop. Sesekali curhat masih dilanjutkan di laptop, tapi sensasinya tak sedahsyat buku diary. Dan setelah saya menemukan pasangan hidup, nyaris hilang kebiasaan curhat saya lewat tulisan. Meskipun zaman sekarang orang lebih terbuka ngeluarin isi otaknya di sosial media, maupun blog dan bisa jadi konsumsi publik, tapi menurut saya merahasiakan sesuatu melalui tulisan itu sebenarnya mengasikan juga lho. Toh, enggak setiap orang harus tahu apa yang terjadi sama kita kan?

Waktu pulang ke rumah beberapa bulan lalu, saya mendapati suasana kamar saya sudah berubah. Mama memang apik menyimpan barang-barang justru menyimpan buku-buku diary saya yang dulu saya sembunyikan di lemari. Hahaha.. Tapi saya engga pernah nanya sih, apa mama baca cerita-cerita konyol saya di situ. Kalau saya punya anak perempuan kelak, sepertinya saya akan menularkan si buku diary padanya.

http://muda.kompasiana.com/2013/07/02/merindukan-buku-diary-573668.html