Sebagian
besar orang, termasuk saya dan Anda barangkali, enggan sekali melangkahkan kaki
ke rumah sakit atau klinik dokter untuk sekedar mengecek kesehatan. Apalagi
saat kondisi dirasa sehat walafiat. Lha, ngapain ke dokter kalau enggak sakit?
Mungkin stigma itu sudah terpatri di benak banyak orang, mengingat pergi ke
dokter pastilah mengeluarkan kocek yang tidak sedikit.
Tapi apa
benar berkunjung ke dokter itu hanya saat kondisi badan tidak fit alias sakit
saja? Nyatanya, memeriksakan kesehatan rutin ke dokter sebelum datangnya suatu
penyakit menekan biaya dan risiko yang lebih besar di masa yang akan datang.
Misalnya,
ketika kita sakit gigi lalu kita pergi ke dokter gigi. Saya jamin dokter akan
menyarankan Anda datang kembali dan memberi resep terlebih dahulu karena dokter
tidak bisa mengambil tidakan yang bisa membahayakan pasien. Mungkin Anda harus
datang lagi hingga 2-3 kali, dan kemudian ditindaklanjuti dengan tindakan yang
sungguh menyakitkan. Dan yang lebih menyakitkan adalah, tagihan yang Anda
terima, wow.. mahalnya sakit itu.
Coba
bandingkan saja, jika kita patuh dengan anjuran untuk memeriksakan gigi setiap
6 bulan-1 tahun sekali meskipun tanpa keluhan, insya ALLAH kita tidak perlu bolak-balik
ke dokter sambil terus menahan rasa sakit. Dokter pun akan melakukan tindakan
yang sifatnya preventif ketimbang reaktif kan.
Begitu
juga pengalaman saya dengan dokter THT. Waktu masih kuliah, saya adalah salah
satu “korban” dokter THT di RS Dr Sarjito. Selama sebulan, entah berapa kali
saya harus bolak-balik untuk mengambil kotoran telinga yang mengeras. Jangan
ditanya bagaimana rasanya, selain sakit saya juga capek bolak-balik, makan
biaya dan waktu. Memang sih waktu itu
sebagian biaya pengobatan ditanggung asuransi kampus, eh tapi ya saya juga
tetep keluar biaya meski terjangkau tapi kan lumayan juga buat anak kost.
Huft.. setelah si kotoran telinga membandel itu keluar, akhirnya saya pun nurut
saran dokter untuk tidak membersihkan telinga sendiri dan harus kontrol minimal
6 bulan-1 tahun.
Selain
gigi dan THT, masih banyak kok dokter yang perlu kita kunjungi sebagai bentuk
pencegahan atau mengurangi risiko kita terhadap penyakit. Misalnya pap smear ke
dokter kandungan untuk mendeteksi sejak dini risiko kanker serviks. Jadi, ke
dokter kandungan bukan cuma saat hamil doang lho ya.
Kalau ada rejeki lebih
atau syukur-syukur ditanggung asuransi sih, enggak usah ragu untuk memeriksakan
kesehatan ke dokter. Tapi.. ada baiknya sebelum ke dokter kita cari rekomendasi
dulu dokter-dokter mana yang oke diajak komunikasi. Jangan sampai ke dokter
tapi sia-sia belaka karena dia pelit informasi, kan tujuan kita untuk menurunkan
risiko gangguan kesehatan. Jadi pasien juga harus cerewet sama dokternya,
bertanyalah sebanyak-banyak tentang kesehatan kita dan tindakan preventifnya.
Jadi, ga perlu tunggu sakit kan untuk ketemu dokter?
